slot gacor
mahjong slot

Sekadar Ilusi bagi Pendidikan Anak Bangsa

Partisipasi Semesta: Solusi Nyata atau Sekadar Ilusi bagi Pendidikan Anak Bangsa?

Partisipasi Semesta: Solusi Nyata atau Sekadar Ilusi bagi Pendidikan Anak Bangsa?

Sekadar Ilusi bagi Pendidikan Anak Bangsa Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2025 kembali menjadi momentum reflektif bagi dunia pendidikan Indonesia. Mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk terlibat aktif dalam membangun sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah partisipasi semesta benar-benar menjadi solusi konkret, atau justru berpotensi menjadi jargon simbolik tanpa dampak nyata?

Hari Pendidikan Nasional tidak dapat di lepaskan dari sosok Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional yang lahir pada 2 Mei 1889. Pemikirannya menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja, melainkan proses memanusiakan manusia. Pendidikan harus membentuk karakter, membangun kesadaran sosial, serta menumbuhkan daya kritis peserta didik terhadap realitas di sekitarnya.

Baca juga : Untar Investasikan Puluhan Triliun

Pendidikan Bermutu untuk Semua

Tema Hardiknas 2025 mencerminkan harapan besar akan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, pendidik, peserta didik, keluarga, dan masyarakat luas diharapkan berperan aktif dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat. Semangat ini juga tergambar dalam logo Hardiknas 2025 yang menampilkan tiga figur manusia dengan warna berbeda, bergerak dinamis ke arah bintang emas. Simbol tersebut merepresentasikan tiga pilar utama pendidikan: peserta didik, pendidik, dan masyarakat yang bersatu menuju cita-cita pendidikan nasional.

Namun, realitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan kompleks. Ketimpangan akses pendidikan, kualitas pengajar yang belum merata, serta infrastruktur yang belum memadai di berbagai daerah menjadi persoalan mendasar. Di sisi lain, maraknya komersialisasi pendidikan membuat kualitas kerap di kalahkan oleh kepentingan ekonomi. Banyak institusi pendidikan lebih berorientasi pada keuntungan, sehingga esensi pendidikan sebagai proses pembebasan manusia kian tergerus.

Pemikiran Tan Malaka

Pemikiran Tan Malaka relevan untuk kembali di renungkan. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan ketertindasan. Pendidikan harus mempertajam kecerdasan, memperkuat kemauan, serta memperhalus perasaan. Jika pendidikan hanya di arahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, maka yang lahir bukanlah manusia merdeka, melainkan individu yang kehilangan daya kritis dan kepekaan sosial.

Partisipasi semesta seharusnya tidak dimaknai sebatas keterlibatan simbolik atau seremonial. Dibutuhkan komitmen nyata, kebijakan yang berpihak pada kualitas, serta pengawasan yang konsisten agar setiap anak bangsa memperoleh hak pendidikan yang bermutu. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan sebagai pengawas, pendukung, dan mitra kritis dalam proses pendidikan.

Pada akhirnya, pendidikan yang bermutu untuk semua hanya dapat terwujud jika partisipasi semesta di jalankan secara substansial. Bukan sekadar slogan tahunan, melainkan gerakan bersama yang berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, dan masa depan bangsa. Tanpa itu, partisipasi semesta berisiko menjadi ilusi yang indah di atas kertas, namun jauh dari realitas pendidikan anak negeri.